/> HANI'S WORLD : Sahabat Sehidup Semati

Sahabat Sehidup Semati



Malam ini, hujan turun dengan sangat deras mengisi keheningan di sebuah kamar ruang UGD yang terdapat 3 anak remaja bernama Gladis, Audy dan Helen.


Ketiga remaja itu menutup matanya dengan sempurna, entah apa yang mereka lakukan. Salah satu dari mereka, Gladis membuka mata lebih dulu dari kedua temannya yang masih menutup mata, senyum kecil terbit dari bibir indahnya. Malam ini, mereka sedang merangkai mimpi untuk hari esok yang semoga akan terkabulkan doanya.

"Udah belum? Gue udah nih." ucap Gladis sembari menatap langit-langit kamar.

"Gue udah, tinggal Audy yang belum selesai kayanya." jawab seorang temannya yang membuka mata, Helen.

"Eh kalian udah? Maaf kali ini gue lama." ucap Audy yang tak enak hati sembari tertawa kecil, Gladis dan Helen ikut tertawa karena mereka yakin Audy hampir ketiduran.

"Iya gapapa." ucap Gladis memaklumi.


Hening kembali menyapa, ketiga remaja itu menatap langit-langit kamar, Helen menghela nafas kasar.

"Besok kan gue operasi jam 3 pagi, terus kalian berdua jam 8 pagi. Semoga kita sembuh ya, jujur gue udah cape harus bolak balik ke rumah sakit." Helen kembali membuka suara, kedua temannya itu hanya diam menyimak apa yang Helen katakan.

"Jujur ya, gue gamau kita terus-terusan kaya gini, gue mau kita bertiga sembuh." gumam Helen yang menghela nafas pelan.


Audy tersenyum kecil mendengarnya. Jujur, dirinyapun juga mau seperti itu, ia mau seperti remaja lainnya yang bebas main kemana saja dan hanya mengonsumsi obat saat mereka demam saja, tidak seperti dia dan kedua temannya yang harus banyak mengonsumsi obat setiap harinya.

"Gue juga mau, Len. Doa gue selalu sama di setiap kita melakukan hal ini." timpal Gladis.

"Shh." gumam Gladis yang meringis menahan sakit. Helen dan Audy tidak menyadari hal itu.

"Gue berharap, operasi kalian besok berjalan dengan lancar, gue ngantuk pengen tidur duluan." lirih Gladis sebelum menutup mata.


Helen dan Audy belum juga menyadari hal itu, keduanya mengira Gladis memang benar-benar mengantuk, padahal di hari itulah mereka akan berpisah.


Audy menatap Helen dari samping, begitupun Helen. Keduanya baru saja sadar saat mereka tidak lagi mendengar hembusan nafas Gladis. Helen bangkit terlebih dahulu, lalu menatap Gladis yang tertidur sembari tersenyum. 


Air mata jatuh membasahi pipi keduanya, suara isak tangis keluar bebas dari bibir Audy. Helen yang jarang menangispun kini terisak kencang. Tiba-tiba, keduanya berteriak kesakitan sembari memeluk Gladis yang sudah tenang, para orang tua berlari menuju kamar ruang UGD, menghampiri asal suara tangis yang menggema itu. Saat orang tua mereka tiba, apa hendak dikata ketiga remaja itu sudah tidak bernafas dan mereka pergi sembari berpelukan tanpa pamit.


Tepat pada tanggal 13 Agustus 2019, ketiga sahabat itu meninggal secara bersamaan. Dimana beberapa hari sebelumnya mereka sempat koma akibat luka berat yang mereka alami tatkala sehabis pulang sekolah mereka tertabrak mobil angkot yang melaju sangat kencang.


~ Selesai ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar