Namaku Rachel. Sedari kecil, hari-hariku dihabiskan di panti asuhan. Betapa senangnya waktu itu dapat belajar, bermain dan bersenda gurau bersama teman-temanku.
Ketika usiaku beranjak tujuh tahun, aku diadopsi oleh keluarga yang cukup kaya. Papah, mamah, kusebut orang tua angkatku. Rupanya mereka belum lama kehilangan anak kandung perempuannya, yang meninggal karena kecelakaan lalu-lintas. Usia anak kandung mereka seusia denganku dan merekapun sangat menyayangiku seperti anak kandung mereka sendiri.Kini aku tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang bersekolah di SMU Generasi Bangsa, sekolah swasta favorit di Jakarta Selatan. Saat itulah dimulainya kejadian-kejadian di luar nalar yang aku alami. Di sekolah itu, aku mempunyai sahabat yang bernama Meri.
Rachel : (Tersenyum dan mengulurkan tangan)
"Hai...namaku Rachel. Siapa namamu?"
Meri : (Tersenyum sambil berjabat tangan)
"Hai juga, namaku Meri, senang kenalan
dengannu, Rachel."
Kami selalu berdua ke mana-mana bahkan ke toiletpun kami berdua. Ketika di toilet, entah kenapa aku merasa pusing dan menggigil.
Meri : (Tampak panik) "Chel...Rachel, kenapa
kamu?"
Rachel : (Memegang kening) "Tiba-tiba saja aku
pusing dan menggigil, Mer."
Tak berapa lama, aku melihat sesosok makhluk halus berbaju putih panjang dengan rambut menjuntai terurai sedang duduk di atas pintu toilet.
Rachel : (Menunjuk dan tampak kaget) "Si...siapa
kamu?"
Meri : (Tampak bingung) "Chel...kamu ngomong
sama siapa?"
Rachel : (Sambil menunjuk lagi) "Itu loh, Mer, ada
cewek baju putih berambut panjang duduk
di atas pintu toilet."
Meri : (Tertawa dan menggelengkan kepala)
"Mana Chel, mana..gak ada siapa-siapa,
halu kamu, ya. Ayolah aku mau pipis dulu,
kebelet, nih."
Rachel : (Menatap sosok tersebut) "Kamu sedang
apa di sana, jangan ganggu kami, ya!"
Sosok makhluk halus itu tersenyum pada Rachel dan menghilang seketika.
Bel pulangpun berbunyi, seperti biasa, kami pulang bersama dan masih membahas kejadian aneh yang aku alami.
Meri : (Memegang pundakku) "Chel...kamu
baik-baik aja, kan? Aku masih belum
percaya apa yang kamu lihat tadi di toilet."
Rachel : (Mengangkat dua jari ke atas) "Suer Mer...
sumpah deh, tadi aku ngelihat sesosok
makhluk halus di toilet."
Meri : (Mengerutkan kening) "Oh...gitu ya, Chel.
Jangan-jangan kamu orang indigo, ya?"
Rachel : (Tampak bingung) "Apa Mer...orang indigo,
apaan tuh, aku gak ngerti."
Meri : (Diam sejenak) "Hmm...jadi indigo itu,
kelebihan khusus dari Tuhan yang
diberikan kepada orang-orang tertentu,
seperti bisa melihat makhluk halus dan
bisa melakukan hal-hal di luar nalar
manusia."
Rachel : (Menggaruk kepala dan mengangguk
perlahan) "Oh...gitu, ya tapi aku masih
belum tau, apakah aku orang indigo atau
bukan."
Tiba-tiba saja saat kami asyik mengobrol, dari arah berlawanan melaju motor dengan sangat kencang dan hampir menabrak Meri. Tetapi entah kenapa, dengan gerak refleks yang sangat cepat, aku dapat menghindar dan menarik tangan Meri sehingga kamipun dapat selamat.
Meri : (Tampak kaget dan terengah-engah)
"Hampir... hampir saja aku ketabrak motor
itu. Makasih Chel...makasih!"
Rachel : (Ekspresi wajah bingung) "I...i...ya, Mer,
sama-sama, kita bisa selamat, ya."
Meri : (Memegang tanganku) "Chel...seperti yang
aku bilang tadi, kamu emang indigo, Chel.
Tadi kamu gerak cepet banget narik tangan
aku dan kitapun bisa selamat."
Setelah beberapa bulan berlalu, kejadian-kejadian di luar nalarpun masih sering aku alami. Bukan hanya dapat melihat makhluk halus namun aku seperti mempunyai kekuatan super yang orang lain tak miliki. Pernah suatu ketika, seperti biasanya aku pulang sekolah bersama Meri. Saat kami melewati pasar, terlihat suasana yang menegangkan dimana nampak dua orang preman memalak beberapa pengunjung pasar. Melihat hal itu, seketika tubuhku bergetar dan aku merasa ada kekuatan hebat yang mengalir dalam tubuhku. Lantas, akupun menghampiri kedua preman itu.
Rachel : (Dengan suara pelan)
"Bang...bang...maaf jangan buat onar
di sini, ya! "
Preman 1 : (Mata melotot dan membentak)
"Apa-apaan, lu, sok nasehatin gue!"
Preman 2 : (Mengepalkan tangan dan marah)
"Untung cewek, kalo cowok gue hajar lu.
Cepet pergi, lu, jangan cari masalah ama
gue!"
Rachel : (Badan sedikit membungkuk) "Sekali
lagi maaf ya Bang, tolong jangan buat
onar di sini."
Preman 1 : (Bersiap mendorong tubuh Rachel)
"Kurang ajar, sono pergi, lu!"
Ketika preman itu akan mendorong tubuh Rachel, tiba-tiba preman itu terpental jauh ke belakang. Melihat hal itu membuat preman satunya lagi sangat marah dan berusaha menendang Rachel namun belum sempat kaki preman itu menyentuh tubuh Rachel, preman itupun terpental jauh ke belakang, menyusul temannya yang telah terpental terlebih dahulu. Akhirnya kedua preman itu lari terbirit-birit meninggalkan pasar.
Siapa aku....? Akupun hingga saat ini masih belum tahu dan aku hanya bersyukur memiliki kelebihan yang diberikan oleh Tuhan. Akupun berjanji akan menggunakan kelebihan dan kekuatan ini untuk menolong orang lain.
~ Selesai ~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar