Di sebuah desa yang bernama Suka Makmur, hiduplah seorang lelaki tua yang bernama Pak Sugih. Ia adalah seorang peternak kelinci. Dari sekian banyak kelinci yang ia pelihara hanya tiga ekor yang masih hidup. Kelinci yang lain telah mati dimangsa harimau.
Ketiga kelinci tersebut ia beri nama Michel, Angeli dan Clara. Setiap harinya Pak Sugih selalu merawat dan menjaga ketiga kelincinya tersebut dengan penuh kasih sayang. Iapun kerap membawa mereka pada saat mengambil wortel di kebun milik peninggalan orang tuanya yang terletak sangat jauh dari rumahnya agar ketiga kelincinya itu tidak dimangsa harimau lagi.Tatkala suatu ketika, tak seperti biasanya Pak Sugih merasa lelah setelah mengambil wortel di kebun milik kedua orang tuanya. Ia lalu beristirahat dan tertidur di bawah pohon mangga yang berada di kebun itu. Tanpa ia sadari, ketiga kelincinya tersebut keluar dari kandang kecil yang selalu ia bawa saat ingin mengambil wortel. Ketiga kelincinya itu terus berjalan dan berlari ke arah hutan yang letaknya tak jauh dari kebun orang tua Pak Sugih.
Di dalam hutan, ketiga kelinci Pak Sugih menemukan sebuah cermin tua yang sangat besar. Kemudian mereka melihat ke arah cermin dan secara tiba-tiba tersedot ke dalam cermin tua itu. Ketiga kelinci Pak Sugih tersebut sangat terkejut ketika mendapati diri mereka sendiri berubah menjadi manusia dan merekapun terlibat percakapan.
Michel: ”Si….siapa kalian?”
Angeli: ”Ak….ak….aku Angeli.”
Clara: ”Aku….Clara.”
Angeli: ”Kamu siapa?”
Michel: ”Masa kalian tidak kenal aku sih….Aku Michel.”
Clara: ”Tapi….kenapa tubuh kita jadi manusia?”
Angeli: ”Iya ya….bukankah kita kelinci?”
Mereka saling berpandangan dan diam beberapa saat, tampak bingung dan tidak percaya pada kondisi mereka saat ini. Mereka kemudian bersiap-siap akan pergi meninggalkan perpustakaan tempat dimana mereka pertama kali berubah menjadi manusia. Tetapi alangkah terkejutnya, ketika menyadari bahwa merekapun memiliki kekuatan yang unik. Michel memiliki kekuatan telekinesis yaitu dapat memindahkan benda dengan pikiran tanpa menyentuh. Kemudian Angeli memiliki kekuatan berlari dengan sangat cepat seperti kilat. Sementara Clara mempunyai kekuatan super power atau tenaga yang sangat besar dan kuat, yang dapat mengangkat benda seberat apapun.
Di dalam perpustakaan itu pula mereka menjajal kekuatannya masing-masing tanpa ada yang melihat satu orangpun. Setelah puas menjajal kekuatan masing-masing, mereka lalu bergegas pergi meninggalkan perpustakaan itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang bernada tinggi yang memanggil mereka. Mereka adalah Jessica, Laura dan Margareth yang merupakan teman sekampus Michel, Angeli dan Clara.
Jessica: ”Hei….! darimana saja kalian?”
Laura: ”Bukankah kalian kami kurung di dalam gudang kampus?”
Margareth: ”Lantas, bagaimana kalian bisa keluar dan berada disini?”
Kemudian Michel, Angeli dan Clara segera pergi tanpa menghiraukan perkataan mereka. Jessica dan teman-temannya langsung mengancam mereka.
Jessica: ”Awas….kalian! besok akan kami kurung lagi.”
Margareth: ”Iya benar….bukannya jawab pertanyaan kami, kalian langsung pergi begitu saja.”
Setibanya di luar kampus Michel dan teman-temannya tampak bingung akan pergi kemana dan tiba-tiba dari arah belakang mereka, ada seorang perempuan yang agak tua menyapa. Perempuan itu bernama Mrs.Jeanet, perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah ibu asuh mereka.
Mrs.Jeanet: ”Anak-anak….! kenapa kalian masih ada di sekitar kampus, bukannya pulang ke rumah?”
Michel dan teman-temannya saling berpandangan dengan ekspresi wajah mereka yang tampak lebih bingung lagi lalu mereka berkata:
Clara: ”Iya….kami baru saja akan pulang.”
Mrs.Jeanet: ”Kalian tampak berbeda hari ini dan tampak bingung sekali. Ada apa, apakah Jessica membully kalian lagi?”
Mereka menganggukkan kepala tanpa menjawab lalu Mrs.Jeanetpun mengajak mereka pulang bersama. Keesokan harinya, ada acara pentas seni yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali di kampus mereka. Michel dan teman-temannya turut berpartisipasi dalam acara itu dengan menampilkan bakat dance atau menari mereka. Di sisi lain, Jessica dan teman-temannya mempunyai rencana jahat, yaitu ingin menggagalkan Michel dan teman-temannya pada saat mereka tampil nanti. Dengan berbagai macam cara yang licik dan jahat, mulai dari melemparkan petasan, menjatuhkan properti di panggung hingga merobohkan panggung sudah ada dalam benak mereka.
Tiba saatnya Michel dan teman-temannya tampil. Suara musik yang menghentak dan dinamis mengiringi mereka di atas panggung. Sorak sorai dan tepuk tangan penontonpun tiada henti-hentinya silih berganti dilakukan, seakan mewakili rasa gembira dan puas atas pertunjukkan yang Michel dan teman-temannya tampilkan di atas panggung. Namun, di tengah pertunjukkan, kekacauanpun terjadi. Banyak petasan yang meledak kesana kemari yang membuat penonton panik berlarian bahkan banyak diantara penonton yang terjatuh.
Di atas panggungpun tak kalah kacaunya, properti panggung seperti sound system kelihatan bergoyang akan jatuh dan kondisi panggungpun berantakan seperti akan ambruk. Dari sudut ruangan, Jessica dan teman-temannya tertawa puas menyaksikan kekacauan yang terjadi, yang diakibatkan dari ulah mereka untuk menggagalkan penampilan Michel dan teman-temannya. Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika sedang melihat ke arah panggung.
Jessica: ”Coba lihat Michel dan teman-temannya itu!”
Laura: ”Ap….apa yang mereka lakukan?”
Margareth: ”Mereka….mereka memiliki kekutan luar biasa. Lihat….lihat Angeli bisa berlari sangat cepat memindahkan penonton yang panik ketempat yang aman.”
Jessica: ”Iya…. Iya benar. Lihat… Clara dapat menahan dan memperbaiki posisi panggung yang ambruk. Sungguh….luar biasa!”
Laura: ”Michel juga dapat memindahkan letak sound system yang roboh tanpa menyentuh. Darimana mereka dapat kekuatan luar biasa itu?”
Merekapun sangat heran dan terlihat ekspresi ketakutan pada wajah mereka. Belum hilang rasa heran dan ketakutan mereka, alangkah terkejutnya mereka, badan mereka bergetar ketika tiba-tiba Michel dan teman-temannya sudah berada di hadapan mereka.
Michel: ”Pasti semua ini ulah kalian?”
Angeli: ”Kalian harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini!”
Clara: ”Minta maaflah pada panitia penyelanggara dan semua orang yang menjadi korban!”
Jessica: ”Ba…ba…baik kami minta maaf atas semua kekacauan ini.”
Laura: ”Iya….be….benar ini memang ulah kami.”
Margareth: ”Kami tidak akan mengulanginya lagi dan akan berhenti membully kalian.”
Merekapun saling bersalaman dan berpelukan. Terlihat mata Jessica dan teman-temannya berlinang menandakan rasa penyesalan yang sangat dalam. Setelah semua keadaan berangsur-angsur pulih dan membaik, Michel dan teman-temannya nya pergi kearah gudang kampus tempat dimana Michel dan teman-teman nya yang asli dan sebenarnya di kurung dan disekap oleh Jessica dan teman-temannya. Setelah Mereka bertemu dan menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi, akhirnya merekapun berpamitan dan berpisah di dalam perpustakaan. Ketiga kelinci Pak Sugih yang berwujud manusia itu akhirnya kembali masuk ke dalam cermin yang terletak di pojok ruangan perpustakaan dan dengan seketika cermin itupun menghilang.
Akhirnya mereka kembali keluar dari dalam cermin tua di dalam hutan dengan wujud aslinya sebagai kelinci dan berlari pulang masuk kedalam kandang kecil yang di bawa Pak Sugih yang masih tertidur. Tak beberapa lama kemudian, Pak Sugih pun terbangun dan membawa ketiga kelincinya itu pulang kembali ke rumah.
~ Selesai ~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar