/> HANI'S WORLD : Pendidikan

Pendidikan



ADAPTASI KURIKULUM BARU


Meja kursi sangat diburu.
Tas buku semakin laris diserbu.
Seragam sekolah dicari setiap waktu.
Melengkapi adaptasi kurikulum baru.

Jalur zonasi selalu diterapkan.
Tidak sepenuhnya menguntungkan.
Berharap masuk sekolah negeri impian.
Namun banyak siswa berguguran.

Mengapa semua itu terjadi?
Mafia pendidikan kian menjadi-jadi.
Manfaatkan peluang sesuka hati.
Mencuri rupiah perkaya diri sendiri.

Sistem belajar sudah merdeka.
Menuntut peserta didik aktif membaca.
Adaptasi kurikulum baru di depan mata.
Setali tiga uang dengan oknum pemaksa.


KANTIN SEKOLAH

Penat seharian berteman pena.
Bersanding buku pelajari tema.
Duduk tertib seraya membaca.
Pahami materi yang sudah ada.

Setiap hari kerap memutar otak.
Terasa berat menbebani benak.
Siap siaga hadapi ulangan mendadak.
Berharap nilai sempurna di raport kelak.

Bel istirahat pun telah berbunyi.
Sontak berlari tanpa permisi.
Menuju kantin sekolah yang dinanti.
Laksana bertemu sang pujaan hati.

Melepas lelah di waktu siang.
Seakan bebas terbang melayang.
Bersenda gurau tertawa riang.
Santap makanan perut pun jadi kenyang.


R I S M A


Rona biru langit menghias indah angkasa.
Tatkala risma menyatukan jiwa rohani kita.
Mula tak kenal akhirnya saling tegur sapa.
Memori berkesan takkan pernah terlupa.

Canda tawa mengiringi selalu setiap saat.
Tangis sedih membuat sanubari tak kuat.
Interupsi jadi bumbu debat beda pendapat.
Kendati demikian selalu mendirikan sholat.

Kau buat cakrawala iman kian bersinar.
Membingkai diri istiqomah dalam sabar.
Walaupun banyak godaan datang berkobar.
Kau peluk sukma ini dengan penuh sadar.

Kini perpisahan siap merangkak menjelang.
Banyak kenangan yang pasti terbayang.
Terpatri di ingatan rindu bukan kepalang.
Tukmu pengemban misi masa mendatang.
 

JEJAK PERPISAHAN


Rasa syukur getarkan dinding sukma diri. 
Tertunduk malu namun kesal dalam hati. 
Menyaksikan tingkah polahmu setiap hari. 
Manakala bersua kenal denganmu di sini.

Berawal jumpa yang penuh satwa sangka. 
Kini jejak perpisahan berdiri di depan mata. 
Akan pergi menorehkan kenangan mulia. 
Tugasmu menunggu di jalur yang berbeda. 

Tak kuasa air mata ini menetes di pipiku. 
Iringi sedih salam pisah denganmu. 
Takkan sia-sia mengalir butiran peluhmu. 
Bingkai emasmu kan kuingat setiap waktu.

Risma telah pererat ukhuwah islamiyah. 
Raih masa depan dengan pantang menyerah. 
Terima kasih untukmu yang tak kenal lelah. 
Doa kupanjatkan bagimu penghuni jannah. 


KERAM OTAK


Tiap detik kian berharga. 
Tunggu sabar tugas yang ada. 
Rutin meluncur di depan mata. 
Hela nafas terengah paksa. 

Tiada lagi waktu santai. 
Hampa sudah tanpa dibuai. 
Jiwa terkungkung terasa lunglai. 
Laksana diri berpasungg rantai.

Naluri hati kerap berontak. 
Lepas lega ingin teriak. 
Cabut pasak yang menghujam benak. 
Penyebab penat bahkan keram otak. 

Apakah air sudi menyegarkanku..... 
Mengapa angin berhembus malu..... 
Pasrah rela kutempuh meskipun jemu. 
Raih keberhasilan ilmu tanpa ragu. 

Tetap semangat kuatkan niat. 
Songsong asa secara giat. 
Walaupun keram otak acapkali mendarat. 
Nur Ilahi pasti datang tuk orang yang taat. 

  

MEMBURU BANGKU


Animo siswa menggelora.
Pena buku kembali ada.
Terbangun sadar di ruang baca.
Tatkala ajaran baru telah tiba.

Berdebar hati selalu menunggu.
Setiap detik memantau tanpa ragu.
Orang tua tampak resah dan risau.
Demi sang anak calon siswa baru.

Jalur masuk disediakan.
Radius jarak ditentukan.
Ramai siswa dalam pendaftaran.
Berharap lolos masuk pilihan.

Tak peduli jalur belakang.
Merogoh kocek tak terbilang.
Apapun cara asalkan uang.
Terus berlanjut berulang-ulang.

Tatap muka selalu dinanti.
Langkah kaki sigap tiap hari.
Memburu bangku tujuan pasti.
Mencari sekolah yang diminati.


GURUKU


Engkaulah... pahlawan hidupku. 
Sebagai pelita gelapnya asaku. 
Membimbing setiap langkah selalu. 
Jasamu penyelamat negeriku. 

Guruku... peluhmu yang terbuang. 
Bagaikan cahaya bintang-bintang. 
Yang selalu bersinar malam dan siang. 
Membuat peradaban tak terbelakang. 

Guruku... engkaulah tokoh pendidikan. 
Yang mencerdaskan setiap insan. 
Senantiasa memerangi semua kebodohan. 
Dengan perasaan tulus diiringi keimanan. 

Pengabdianmu sungguh mulia. 
Pantang putus asa demi kemajuan bangsa. 
Kegigihanmu terpatri dalam jiwa manusia. 
Untuk menyongsong masa depan bahagia. 


MADRASAHKU


Mula bertemu tampak malu. 
Walau tak kenal tetap berpadu. 
Untuk berjuang menuntut ilmu. 
Di suatu tempat yang asri dan hijau. 


Kaulah madrasah tempatku belajar. 
Guru-gurunya istiqomah dalam mengajar. 
Membimbingku dengan tulus dan sabar. 
Mendidikku hingga menjadi pintar. 

Banyak kenangan dengan dia. 
Rasa senang dan sedih kita bagi bersama. 
Bahkan..... tatkala pandemi melanda. 
Madrasahku..... tak gentar menghadapinya. 

Kini..... aku akan pergi melanjutkan misi. 
Meninggalkanmu seorang diri lagi. 
Ribuan terima kasih tukmu sahabat sejati. 
Kaulah madrasahku yang sangat kucintai.


MENGEJAR ASA


Pelita terang dalam kamarku. 
Buku di meja pena di saku. 
Terlintas sekilas dalam detik waktu. 
Rasa jenuh yang mengganggu. 

Jendela ilmu kan kubuka. 
Gerbang pengetahuan di depan mata. 
Takkan percuma hilang sia-sia. 
Meniti langkah mengejar asa. 

Hasrat hati ingin mencapai. 
Cita-cita tinggi kan kugapai. 
Genggam dunia lugas tak gontai. 
Mungkinkah ini akan tersemai. 

Pasang surut sistem pendidikan. 
Membuat siswa kebingungan. 
Tatap muka yang diharapkan. 
 Berganti belajar dalam jaringan. 

Pantang putus asa terus semangat. 
Meskipun birokrasi kadang menghambat. 
Memburu masa depan semakin giat. 
Tuk menjelma menjadi pribadi terhebat.


° Semua Karya : Hanifah Mahira °

Tidak ada komentar:

Posting Komentar