/> HANI'S WORLD : Sosial

Sosial



BALADA PENGAMEN CILIK

Mulai bergegas di pagi buta.
Berbekal tutup botol sirup yang tertata.
Kadangkala menimang ukulele seadanya.
Meniti jalan sempit tempat tinggalnya.

Semangat menerobos kebuntuan hati.
Meraup rupiah tuk bekal nanti.
Walaupun jarang sarapan pagi.
Selalu tersenyum setiap hari.

Balada pengamen cilik.
Kejar asa ingin menjadi karyawan pabrik.
Tuk membangun rumahnya yang bilik.
Terus mengamen, bertindak jujur dan baik.

Kaki kecil tak beralas, rambut berantakan.
Berbaur dengan kumpulan asap kendaraan.
Di lampu merah, ia larut dalam nyanyian.
Ada yang peduli bahkan sering diacuhkan.

Balada pengamen cilik penuh haru.
Tak jarang ia pulang tertunduk lesu.
Tiada uang yang terkumpul di saku.
Apakah semua ini dilaluinya setiap waktu?


BECAK YANG SETIA


Menggilas debu-debu jalanan.
Melewati waktu lintas jaman.
Meskipun hari berganti bulan.
Terus melaju tanpa bosan.

Becak yang setia tiap waktu.
Mentari pagi jadi saksi hadirmu.
Bersaing dengan roda mesin yang maju.
Kau tetap sabar menunggu pelangganmu.

Tatkala terik terasa di permukaan kulit.
Kau tak gentar walau rupiah terasa sulit.
Pantang resah di kumpulan orang pelit.
Coba menerobos kawasan serba elit.

Becak yang setia mendampingi.
Bersama pengayuhmu, malam pun dilalui.
Rembulan seakan tahu letihmu setiap hari.
Senantiasa semangat tuk menjemput rejeki.


MULUT BESAR


Tiap detik sering berkoar. 
Busungkan dada merasa pintar. 
Hari demi hari terus beredar. 
Begitulah aksi Si Mulut Besar.
 
Merancang drama tanpa skenario pasti. 
Tampil berperan unggulkan ego duniawi. 
Paksa kehendak supaya dipercayai. 
Merangkai sejuta kata penuh basa-basi.

Gemar bertutur tak tahu malu. 
Bermuka dua pandai menyaru. 
Mengaku jujur padahal menipu. 
Lihai berdusta semuanya palsu. 

Lalat menjauh pertanda muak melihatnya. 
Buta hati berbalut selimut dosa. 
Menjadi teman abadi sepanjang masa. 
Semoga diampuni Tuhan Yang Maha Esa.


LATO-LATO


Bentuk bulat bertali sama.
Dari anak kecil hingga orang dewasa.
Sibuk bermain dengan berbagai gaya.
Engkau jadi fenomena langka di Indonesia.

Lato-lato menyeruak ke seantero negeri.
Menyaingi kasus korupsi saat ini.
Membuat virus corona ciut nyali.
Mendadak viral tak tertandingi.

Engkau laksana siluet kehidupan.
Terasa mudah namun sulit dimainkan.
Boyong kepuasan walaupun jatuh korban.
Menyertai langkah setiap insan.

Bukan sekedar permainan unik.
Engkau gambarkan sifat jujur dan baik.
Bahkan terpampang apik lakon munafik.
Bersatu padu dalam ragamu yang eksentrik.


BUMIKU


Awan duka menyelimuti. 
Isak tangis pilu mengiringi. 
Semua bangunan ambruk tak terkendali. 
Jasad tertimbun, jiwa terbang tinggi. 

Bumiku kerap tak senang. 
Tampak kesal bahkan berang. 
Tiada ingin pendosa tenang. 
Akan melumatnya dari malam hingga siang. 

Tak peduli muda ataupun tua. 
Semua makhluk sedih merana. 
Lantaran tubuhmu bergetar seketika. 
Engkau tumpahkan air tak terhingga. 

Kulit arimu terjun bebas. 
Menyusul lajunya lahar panas. 
Siap menerjang secara ganas. 
Berani menantang pasti naas. 

Maafkanlah ulah kami yang salah. 
Merusak sampai berperang dengan pongah. 
Menuruti nafsu sampah dan serakah. 
Terimalah maaf kami....... Terimalah......! 


PECUNDANG


Kau sembunyi di balik topeng.
Berkoar dengan gaya mentereng.
Aksimu membuat orang tercoreng.
Akal bulusmu laksana kacang goreng

Kau pandai bersilat lidah.
Memfitnah dan memecah belah.
Mengaku menang padahal kalah.
Congkakmu bak busuknya sampah.

Sampai kapan kau sudahi.
Apakah buta hatimu selama ini.
Telah banyak khalayak berapriori.
Atas liar hasratmu yang tak tau diri.

Rasa malu tak pernah bersamamu.
Meraup untung setiap waktu. 
Betapa licik cara kamuflasemu. 
Wahai pecundang….tobatlah dirimu!


MINYAK GORENG

       
Kau jadi fenomena. 
Harga menjulang secara tiba-tiba. 
Entah ditimbun atau memang tidak ada. 
Apakah ini rekayasa penguasa. 

Kau buat rakyat ini susah. 
Konspirasi tangan-tangan serakah. 
Menindas siapa yang lemah. 
Demi meraup pundi-pundi rupiah. 

Manusia merapat antri. 
Berdesakan tiada peduli. 
Protokol kesehatan dihianati. 
Belum tentu dapat apa yang dicari. 

Minyak goreng jadi rebutan. 
Ketidakadilan dipertontonkan. 
Kekayaan bumi pertiwi tak diragukan. 
Mengapa rakyat yang selalu jadi korban. 


HUJAN


Turunmu mengakibatkan bencana. 
Membuat semua makhluk merana. 
Meninggalkan duka tiada tara. 
Menggema tangisan di mana-mana.

Hujan di bumi... 
Kenapa kau selalu dihakimi. 
Dihujat di sana-sini. 
Tanpa perasaan di relung sanubari. 

Wahai...manusia sombong. 
Kau selalu sebarkan berita bohong. 
Fitnahmu hanya omong kosong. 
Kau dustakan hujan di siang bolong. 

Ulahmu membuat rusak kehidupan. 
Ucapanmu memutuskan persahabatan. 
Adu dombamu melunturkan persatuan. 
Tak heran jika turun hujan berkepanjangan. 

Hujan yang penuh berkah. 
Airmu mengalir ke semua sawah. 
Membuat rezeki semakin bertambah. 
Kekayaan bumi pertiwi kian melimpah. 


LAMPU MERAH


Kau saksi antrinya kendaraan. 
Menjadi teman sebagian insan. 
Mengais uang di jalanan. 
Dari pengamen hingga preman. 

Lampu merah yang menyala. 
Loyalmu tiada tara. 
Menghiasi indahnya kota. 
Laksana simbol setiap negara. 

Tubuhmu kokoh berdiri. 
Selalu siaga setiap hari. 
Ditemani bulan dan matahari. 
Walaupun sepi... kau takkan lari. 

Adakah pemimpin sepertimu. 
Yang rela setiap waktu. 
Melayani masyarakat selalu. 
Tanpa pamrih tak kenal jemu. 


RUPIAH


Karenamu orang menjadi rakus. 
Tanpamu manusia gagal fokus. 
Diperebutkan dengan banyak modus. 
Kejujuran nurani makin terberangus. 

Apakah kau seistimewa itu. 
Mengalahkan iman di dalam qolbu. 
Menghalalkan perilaku yang tabu. 
Menguasai panggung dunia yang semu. 

Kau bisa jadi ladang pahala wahai rupiah. 
Jika denganmu setiap insan bersedekah. 
Menolong sesama tanpa imbalan upah. 
Menyayangi yatim dan miskin papah. 

Rupiah laksana cermin. 
Kiaskan sifat manusia dalam bathin. 
Budi baik dan buruk yang terjalin. 
Laksana terangnya api lilin. 


PERANG


 Desingan roket menghantam tajam.
 Gemuruh panser memecah malam.
 Peluru berkeliaran tak pernah diam.
 Aura ketakutan kian mencekam.

Tangis pilu anak kecil di jalan.
Rumah gedung hancur berantakan.
Orang tak berdosa banyak jadi korban.
Ulah perang yang tak berperikemanusiaan.

Perang yang berkecamuk.
Duka korban kian terpuruk.
Darah dan bangkai bercampur aduk.
Bau busuk menyengat berdampak buruk.

Damailah, semua bangsa di segala penjuru! 
Jangan jadikan perang sebagai penentu.
Lihatlah....banyak anak jadi yatim piatu! 
Hidupnya sedih merana sepanjang waktu. 

Dunia berduka karena perang.
Jangan turuti ambisi keji sebagian orang.
Manfaatkan perang demi posisi dan uang.
Ingatlah, balasan di kehidupan mendatang! 


EGOIS


Manipulasi seuntai kata. 
Seakan benar tiada berdusta. 
Memaksa lidah dalam bicara. 
Hianati janji sudah biasa. 

Egois nian sifat tabiatmu. 
Tanpa bosan tak kenal malu. 
Berjalan congkak membusung selalu. 
Menepis jujur setiap waktu. 

Menang sendiri takkan mundur. 
Menganggap remeh susah diatur.
Keras kepala dalam bertutur. 
Menjegal lawan hingga tersungkur.

Hidupmu semakin resah. 
Dihantui perasaan gelisah.
Tatkala kau jatuh kalah. 
Akibat mencibir orang yang susah. 


` Semua Karya : Hanifah Mahira `


Tidak ada komentar:

Posting Komentar