GENDERANG BATIN AYAH
Kerikil dan debu sebagai teman.
Kemeja pendek sering dikenakan.
Sepatu lusuh dengan setia menemani.
Sepanjang hari giat mencari rejeki.
Sinar mentari meluncur turun ke bumi.
Seperti tiada terasa membakar diri.
Terlihat genderang batin ayah semalam.
Tampak termenung dalam diam.
Terlalu berat beban hidup yang terpendam.
Tapi tetap berusaha pagi hingga malam.
Doa suci senantiasa kubaca.
Demi ketenangan ayahanda tercinta.
Derita ini pasti akan berakhir bahagia.
Dunia akhirat kita selalu bersama.
NASIHAT BUNDA
Belaian kasih tulus dicurahkan.
Dekapan manja terasa hangat dan nyaman.
Rasa lelah seringkali diabaikan.
Demi sang buah hati dalam buaian.
Untaian kata lembut sejukkan nurani.
Sejuta makna tersirat penuh arti.
Menetes perlahan laksana embun pagi.
Terus meresap terasa di sanubari.
Menetes perlahan laksana embun pagi.
Terus meresap terasa di sanubari.
Nasihat bunda senantiasa kuingat.
Tuk acuan diri agar lebih semangat.
Mengarungi samudera hidup yang ketat.
Meluruskan sifat berharap tidak tersesat.
Meluruskan sifat berharap tidak tersesat.
Maafkan aku belum membahagiakanmu.
Membuat kesal hatimu setiap waktu.
Namun engkau tersenyum sabar selalu.
Tetap mendidik, senang membimbingku.
Namun engkau tersenyum sabar selalu.
Tetap mendidik, senang membimbingku.
TENANG DALAM KEABADIAN
Belum kering air mata membasahi pipi.
Masih tersemat rasa sedih menyelimuti.
Teringat Sang Bunda sudah terbang tinggi.
Menuju alam surgawi yang abadi.
Goncang hati teramat sangat.
Awan duka datang di hari Jumat.
Membawa kabar ayahanda telah wafat.
Pecah tangis sesaat walau mencoba kuat.
Tatapan kosong seolah tak percaya.
Satu demi satu kembali kepadaNya.
Mereka bertemu lagi di alam sana.
Tenang dalam keabadian yang paripurna.
Kini tinggal kami harus bersabar.
Ikhlaskan hati dengan sadar.
Introspeksi diri jangan pernah pudar.
Pada episode semu yang pasti kelar.
Ayah bundaku tersayang.
Cinta kasihmu lestari takkan lekang.
Khusyuk larut dalam doa tak terbilang.
Tunggu kami di taman hakiki yang tenang.
LANGKAH TAK BERJEJAK
Sembilu rasa menyayat hati.
Detak jantung terasa berhenti.
Awan mendung menghampiri.
Gontai langkah tak berjejak menapaki.
Angin pagi sendu berhembus.
Asa berharap semakin pupus.
Kicau burung terbata putus.
Hasrat minum namun tak haus.
Tiada lagi canda tawa.
Suka duka dilalui bersama.
Keluh kesah kerap bercerita.
Peluk kasihmu senantiasa kudamba.
Engkau selalu bangkit tatkala terjatuh.
Meskipun banyak air mata dan peluh.
Terlihat senyuman di wajahmu yang teduh.
Kerap sujud khusyuk di waktu subuh.
Kini……engkau tinggalah kenangan.
Takkan pernah terlupa dalam ingatan.
Hanya untaian doa yang kupanjatkan.
Mengiringi kepergianmu dalam keabadian.
PENGORBANANMU
Letih lelah menembus waktu.
Angan lepas tak pernah jemu.
Hembusan nafas kian beradu.
Merangkai kasih dalam hidupmu.
Rambutmu semakin memutih.
Kulit halusmu kini beralih.
Pengorbananmu yang tanpa pamrih.
Demi sang buah hati yang terkasih.
Ibuku tercinta.....
Engkau mengandungku dengan setia.
Menahan sakit dan air mata.
Mengorbankan diri bahkan nyawa.
Ibuku wanita terkuat.
Meskipun penuh darah dan keringat.
Melahirkanku dengan penuh semangat.
Agar kelak menjadi anak yang taat.
Tak terbayar air susu yang engkau berikan.
Belaianmu berpadu dengan senyuman.
Cinta kasihmu tak terbatas sepanjang jalan.
Tuk diriku yang selalu larut dalam pelukan.
Ridhomu adalah ridho Ilahi.
Murkamu adalah murka Ilahi.
Untaian doa kupanjatkan setiap hari.
Berharap surga tempatmu nanti.
PELUH SEMANGATMU
Menggilas debu jalanan.
Menerjang panas dan hujan.
Gontai langkah tak dihiraukan.
Lengan baju disingsingkan.
Mengejar harapan terus berjuang.
Dalam roda kehidupan yang menantang.
Tak pernah lelah membanting tulang.
Menjemput upah malam dan siang.
Ayah.....peluh semangatmu.
Bercucuran setiap waktu.
Membasahi pipi dan bajumu.
Demi keluarga yang menunggumu.
Engkau besarkan serta bimbing kami.
Mendidik dan mengajarkan setiap hari.
Dari baca tulis hingga mengaji.
Tuk bekal kami di masa tua nanti.
Ayahku yang bijaksana.
Engkau curahkan kasih sayang mulia.
Mengalir tak terasa air mata.
Doaku selalu untukmu ayah tercinta.
ADIKKU SAYANG
Gelak lucu tawamu.
Terlontar di bibir mungilmu selalu.
Terbujuk hati ingin bertemu.
Adikku sayang setiap waktu.
Kulitmu lembut dan halus.
Tak tahan hasrat ingin mengelus.
Mengusap manja rambutmu yang bagus.
Menimangmu dengan tulus sekaligus.
Betapa bahagianya hidup ini.
Diriku tak sendiri lagi.
Adikku sayang hadir menemani.
Bercanda bersama setiap hari.
Adik kecilku yang berselimut.
Meskipun menangis kau tetap imut.
Wajah sucimu membuatku salut.
Mengobati hati yang gelisah dan kalut.
* Semua Karya : Hanifah Mahira *





Tidak ada komentar:
Posting Komentar