KALA EMBUN MENYAPA PAGI
Simfoni alam begitu indah mempesona.
Sang pengembala sibuk dengan ternaknya.
Nyanyian burung sangat merdu terasa.
Matahari membawa kabar bahagia di bumi.
Semua terjadi kala embun menyapa pagi.
Sang bayu pun tampak sudi mengamini.
Menuntun hati untuk mensyukuri.
Gundah gulana acapkali dirasakan.
Kian menumpuk tak tertahankan.
Rasa sedih tertanam berkepanjangan.
Tatkala kasih telah pergi tanpa pesan.
Kala embun menyapa pagi dengan riang.
Bunga di taman menari tertawa senang.
Mengubah suasana jiwa yang bimbang.
Menghapus duka lara kembali tenang.
KACA MATA
Hati berbunga tiada terkira.
Terpukau hati di depan mata.
Tak kuasa hasrat ingin menyapa.
Si jantung hati berkaca mata.
Tutur kata yang sopan.
Tersimpul manis dalam senyuman.
Perilaku santun mencerminkan.
Dikaulah insan yang didambakan.
Mandiri berdedikasi tinggi.
Loyalitas setiap hari.
Mendidik mengajar setulus hati.
Cerdaskan generasi bangsa ini.
Kaca mata kan kukenang.
Dikau selalu terbayang.
Taat mengaji rajin sembahyang.
Menuntun hati semakin sayang.
Duhai..... pujaanku.
Cinta kasihku hanya untukmu.
Kukan setia laksana kaca matamu.
Do'aku selalu menyertaimu.
SENYUMANMU
Tahun dua ribu empat belas.
Jumpa pertama walaupun sekilas.
Tahi lalat manja menghias paras.
Terlihat di dagumu dengan jelas.
Tatkala kusapa waktu itu.
Dikau tertunduk tersipu malu.
Baju kuning menjadi saksi bisu.
Menambah manis aura wajahmu.
Duhai..... sang dewi idaman.
Dikau menghilang meninggalkan kesan.
Terbayang selalu dalam ingatan.
Tutur kata dan senyumanmu jadi kenangan.
Kenapa dikau pergi.
Apakah ini ilusi hati.
Ataukah cinta yang hakiki.
Dikau selalu kunanti setiap hari.
Dua ribu sembilan belas yang bahagia.
Tak kuduga akhirnya kita jumpa.
Merajut kasih yang tertunda.
Membangun mahligai untuk selamanya.
GETARAN HATI
Diam tenang curi perhatian.
Tampak acuh namun sopan.
Tampil beda di antara teman.
Menggelitik hati ingin kenalan.
Rambut pendek sedikit ikal.
Wajah tampan agak oval.
Engkau shaleh tidak nakal.
Terlihat gagah dan fenomenal.
Tatapan matamu merasuk ke dalam tulang.
Membuat diri mabuk kepayang.
Getaran hati semakin kencang.
Tatkala engkau memanggilku sayang.
Engkaulah pangeranku.
Siang malam kurindu selalu.
Hasrat jiwa kian menggebu.
Tiap hari ingin bertemu.
Dunia indah dan berseri.
Cinta kita selalu bersemi.
Rona kasih dua sejoli.
Janji suci sehidup semati.
HASRAT KERINDUAN
Kuterjaga di malam hari.
Terbayang indah suatu mimpi.
Tak kuasa menahan rindu dalam hati.
Seolah nyata namun hanya ilusi.
Terbayang indah suatu mimpi.
Tak kuasa menahan rindu dalam hati.
Seolah nyata namun hanya ilusi.
Senyumanmu selalu terbayang.
Lembut suaramu kian terngiang.
Betapa diri mabuk kepayang.
Hasrat kerinduan terbang melayang.
Betapa diri mabuk kepayang.
Hasrat kerinduan terbang melayang.
Duhai....kekasihku.
Akankah kita dapat bersatu.
Merajut kasih membingkai rindu.
Membangun mahligai bersama selalu.
Merajut kasih membingkai rindu.
Membangun mahligai bersama selalu.
Bersamamu hati ini semakin bahagia.
Tanpamu kehampaan melanda jiwa.
Hasrat kerinduan beriringan dengan doa.
Untukmu sayang kasihku tercinta.
Hasrat kerinduan beriringan dengan doa.
Untukmu sayang kasihku tercinta.
DILEMA DUA DARA
Berada bersama di titik nadir.
Bunga di taman terasa anyir.
Berubah keruh air yang mengalir.
Angin berhembus seraya mencibir.
Betapa rumit cinta segitiga.
Sang kumbang diburu dua mahkota.
Jatuh hati pada pangeran yang sama.
Terlibat konflik dilema dua dara.
Akankah semua ini berakhir manis.
Ataukah ada episode yang tragis.
Melakoni cerita fragmen pragmatis.
Beradu peran romantis bahkan mistis.
Mengapa tali kasih ini harus terjadi.
Mula sahabat sekarang rival abadi.
Misteri romansa menembus akal budi.
Butakan hati bak budak yang tak tahu diri.
EPISODE CINTA
Secawan lara menghujam relung sukma.
Mengoyak rasa hambar tanpa sisa.
Hancur berkeping runtuh seketika.
Mengurung diri dalam pekat nestapa.
Sekuntum melati layu di taman hati.
Gugur jatuh tiada bersemi lagi.
Sang kumbang berlalu lantas pergi.
Hianati kasih ingkari janji.
Getir kecewa berat dirasakan.
Mengubah impian menjadi kebencian.
Pupus sudah episode cinta yang diperankan.
Berakhir pilu sangat menyakitkan.
Kini sang kumbang bersama bunga baru.
Telah hinggap tebarkan jeratmu.
Menjebak angan memberi harapan palsu.
Setelah puas.....kau campakkan selalu.
# Semua Karya : Hanifah Mahira #




Tidak ada komentar:
Posting Komentar